Oct 3rd, 2016

Defisiensi G6PD, Menguntungkan atau Merugikan?

Anemia seringkali dianggap penyakit yang sepele. Namun, benarkah demikian? Anemia merupakan penyakit kekurangan darah. Penyakit ini dapat disebabkan oleh beberapa hal, salah satunya ialah pecahnya sel darah merah yang terlalu cepat dan tidak dapat diiringi oleh pembentukannya. Defisiensi (kekurangan) enzim glukosa-6-fosfat dehidrogenase (G6PD) dapat menyebabkan rapuhnya sel darah merah.

Penyakit defisiensi G6PD merupakan salah satu penyakit genetik dimana terjadi kelainan genetik pada kromosom X. Kasus G6PD di Indonesia terjadi pada 1.1% bayi lelaki. Penyakit ini lebih umum terjadi pada laki-laki karena mereka hanya memiliki satu kromosom X. Sementara itu, wanita lebih sering menjadi pembawa (carrier) dari kelainan ini. Gejala defisiensi G6PD akan tampak apabila kelainan terdapat pada seluruh kromosom X di dalam tubuhnya.

G6PD merupakan enzim yang terdapat di dalam sel darah merah dan berfungsi untuk menjaga dinding sel darah merah agar tidak mudah pecah apabila terkena zat yang bersifat oksidatif. Bayi yang menderita kelainan ini akan terlihat normal dan sehat hingga bayi tersebut terpapar zat-zat oksidatif yang dapat berasal dari makanan, minuman, obat-obatan, dan diproduksi oleh tubuh saat terjadinya infeksi atau penyakit seperti types, pneumonia, atau gagal ginjal. Oleh sebab itu, pemeriksaan ini penting dilakukan sejak dini (sebagai salah satu screening neonatal) supaya bayi dapat tumbuh dan berkembang dengan normal. Defisiensi akut dapat menyebabkan resiko terjadinya anemia hemolitik, sakit kuning, dan kernicterus.

Studi mengatakan bahwa malaria tidak dapat bertahan hidup pada orang dengan kondisi ini. Berdasarkan hal tersebut maka dikatakan bahwa kelainan ini muncul sebagai bentuk pertahanan alami terhadap malaria. Faktor inilah yang menyebabkan frekuensi kelainan ini terjadi lebih tinggi di Afrika, Asia, Mediterania, dan Timur Tengah.

Perawatan untuk gejala yang berkaitan dengan defisiensi G6PD umumnya dilakukan dengan menghilangkan pemicunya, yaitu dengan merawat penyakit atau infeksi yang menyerang atau menghentikan penggunaan obat-obatan tertentu. Namun, anak-anak yang menderita anemia akut memerlukan perawatan di rumah sakit untuk mendapatkan oksigen, cairan, dan apabila diperlukan, transfuse darah sehat. Sementara itu, cara terbaik untuk menjaga anak dengan kelainan G6PD ialah untuk membatasi paparan terhadap pemicu gejala tersebut.

Back




Events|Blog|Locations|News|e-Catalogue
© Copyright 2016 PT.Setia Medika.
All rights reserved.

Oct 3rd, 2016

Defisiensi G6PD, Menguntungkan atau Merugikan?

Anemia seringkali dianggap penyakit yang sepele. Namun, benarkah demikian? Anemia merupakan penyakit kekurangan darah. Penyakit ini dapat disebabkan oleh beberapa hal, salah satunya ialah pecahnya sel darah merah yang terlalu cepat dan tidak dapat diiringi oleh pembentukannya. Defisiensi (kekurangan) enzim glukosa-6-fosfat dehidrogenase (G6PD) dapat menyebabkan rapuhnya sel darah merah.

Penyakit defisiensi G6PD merupakan salah satu penyakit genetik dimana terjadi kelainan genetik pada kromosom X. Kasus G6PD di Indonesia terjadi pada 1.1% bayi lelaki. Penyakit ini lebih umum terjadi pada laki-laki karena mereka hanya memiliki satu kromosom X. Sementara itu, wanita lebih sering menjadi pembawa (carrier) dari kelainan ini. Gejala defisiensi G6PD akan tampak apabila kelainan terdapat pada seluruh kromosom X di dalam tubuhnya.

G6PD merupakan enzim yang terdapat di dalam sel darah merah dan berfungsi untuk menjaga dinding sel darah merah agar tidak mudah pecah apabila terkena zat yang bersifat oksidatif. Bayi yang menderita kelainan ini akan terlihat normal dan sehat hingga bayi tersebut terpapar zat-zat oksidatif yang dapat berasal dari makanan, minuman, obat-obatan, dan diproduksi oleh tubuh saat terjadinya infeksi atau penyakit seperti types, pneumonia, atau gagal ginjal. Oleh sebab itu, pemeriksaan ini penting dilakukan sejak dini (sebagai salah satu screening neonatal) supaya bayi dapat tumbuh dan berkembang dengan normal. Defisiensi akut dapat menyebabkan resiko terjadinya anemia hemolitik, sakit kuning, dan kernicterus.

Studi mengatakan bahwa malaria tidak dapat bertahan hidup pada orang dengan kondisi ini. Berdasarkan hal tersebut maka dikatakan bahwa kelainan ini muncul sebagai bentuk pertahanan alami terhadap malaria. Faktor inilah yang menyebabkan frekuensi kelainan ini terjadi lebih tinggi di Afrika, Asia, Mediterania, dan Timur Tengah.

Perawatan untuk gejala yang berkaitan dengan defisiensi G6PD umumnya dilakukan dengan menghilangkan pemicunya, yaitu dengan merawat penyakit atau infeksi yang menyerang atau menghentikan penggunaan obat-obatan tertentu. Namun, anak-anak yang menderita anemia akut memerlukan perawatan di rumah sakit untuk mendapatkan oksigen, cairan, dan apabila diperlukan, transfuse darah sehat. Sementara itu, cara terbaik untuk menjaga anak dengan kelainan G6PD ialah untuk membatasi paparan terhadap pemicu gejala tersebut.

Back




© Copyright 2016 PT.Setia Medika.
All rights reserved.